Paser (MAN Paser) — Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Paser terus memperkuat pemahaman guru dalam memberikan layanan pendidikan yang ramah terhadap keberagaman karakter, kebutuhan, dan potensi murid. Salah satunya melalui keikutsertaan tiga guru MAN Paser dalam kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Pendidikan Inklusi: “Mengenali Potensi Anak”, Sabtu (12/9/2026), di MTsN 1 Paser.
Atas penugasan Kepala MAN Paser, H. Subhan Walad, S.Pd.I., M.Pd., kegiatan tersebut diikuti oleh Siti Aisyah, S.Pd., Shabrina Ruhyatul Fauziah, S.Pd., dan Rosdiana Z., S.Pd.
Kegiatan diselenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Paser bekerja sama dengan DWP RSUD Panglima Sebaya. Kegiatan turut dihadiri Plt. Ketua DWP Kantor Kementerian Agama Kabupaten Paser, Ketua DWP RSUD Panglima Sebaya dr. Yuni Sudiartien, serta Agung Prasetyo, S.Kom. yang mewakili Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Paser.
Dalam sambutannya, Plt. Ketua DWP Kementerian Agama Kabupaten Paser menekankan pentingnya kolaborasi antara keluarga, sekolah atau madrasah, masyarakat, serta tenaga kesehatan dalam mendukung tumbuh kembang anak. Keluarga menjadi lingkungan pertama dan utama bagi anak, sementara lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam memberikan ruang agar setiap anak dapat diterima dan berkembang sesuai potensinya.
Sementara itu, Agung Prasetyo menyampaikan penguatan mengenai penyelenggaraan pendidikan inklusif. Sekolah dan madrasah perlu mengenali serta memetakan kebutuhan murid agar prinsip pendidikan inklusif benar-benar dapat diterapkan dalam proses pembelajaran sehingga setiap murid memperoleh kesempatan dan hak belajar yang setara.
Materi utama disampaikan oleh Indah Jati Pratiwi, M.Psi., Psikolog, dengan Susmini sebagai moderator. Melalui materi Mengenali Potensi Anak, peserta diajak memahami bahwa setiap anak memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda. Potensi anak tidak hanya ditunjukkan melalui prestasi akademik, tetapi juga dapat terlihat dari kreativitas, kemampuan berkomunikasi, seni, olahraga, kemandirian, kepemimpinan, hingga kemampuan bersosialisasi.
Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai cara mengenali potensi anak melalui proses mengamati, mendengarkan, memberikan kesempatan untuk mencoba, memberikan dukungan, serta melakukan evaluasi tanpa memberikan tekanan berlebihan. Anak yang menunjukkan ketertarikan kuat pada suatu aktivitas, senang mencoba kembali setelah mengalami kesulitan, ataupun mampu menghasilkan ide-ide baru dapat menunjukkan adanya potensi yang perlu dikembangkan.
Selain mengenali kelebihan anak, peserta dibekali pemahaman mengenai berbagai perubahan perilaku maupun kesulitan yang mungkin muncul pada setiap jenjang usia. Pendampingan perlu dilakukan secara konsisten, sederhana, dan bertahap, disertai komunikasi yang baik antara anak, orang tua, serta pihak sekolah atau madrasah.
Dalam sesi refleksi, peserta diajak melihat kembali aktivitas yang paling disukai anak, hal-hal yang membuat anak bersemangat, kelebihan yang dimiliki, serta bentuk dukungan yang dapat diberikan keluarga untuk membantu perkembangannya.
Keikutsertaan tiga guru MAN Paser dalam kegiatan tersebut diharapkan memberikan dampak pada penguatan layanan pendidikan di madrasah. Pemahaman mengenai pendidikan inklusif dan potensi anak dapat menjadi bekal bagi guru untuk semakin peka terhadap kebutuhan murid serta menghadirkan proses pembelajaran yang lebih ramah, adaptif, dan memberikan kesempatan kepada setiap murid untuk berkembang.
Kenali potensinya untuk menghadirkan pendidikan yang memberi ruang bagi setiap murid untuk tumbuh dan berkembang.